Kamis, 14 Juli 2011 16:40:03
Hampir segera setelah mendarat di Ben Gurion, petugas keamanan
Israel segera memisahkan sekelompok penumpang untuk pemeriksaan
tambahan di kontrol paspor, yang sebagaian besar di antaranya adalah
aktivis.
Mereka kemudian dibawa ke sebuah bus polisi yang diparkir di luar
terminal dimana pria dan wanita dipisahkan dan didorong ke dalam sel
kecil di dalam mobil tur setelah barang-barang para aktivis diperiksa.
Sepuluh orang itu berdesakan dalam ruang sekitar 3,5 meter persegi
yang penuh dengan kecoak. Para aktivis di bus mulai menyanyi, berteriak
dan menuntut untuk diberikan hak menemui pengacara, tetapi polisi Isarel
menjawab dengan kalimat “tutup mulut” dan diancam dengan kekerasan jika
mereka tidak diam.
“Aku tidak ingin menyakitimu tapi pasti akan kulakukan jika memang
harus,” teriak seorang petugas setelah membuka pintu ke sel di mana
aktivis ditahan.
Ketika para aktivis terus melakukan nyanyian dan teriakan, petugas polisi perbatasan mulai menyemprotkan air melalui jeruji sel.
“Anjing saja diperlakukan lebih baik dari ini di negara saya,” kata Bilal, seorang mahasiswa 24 tahun dari Brussel.
Flytilla, Terbang ke Israel
Sebelum potret peristiwa di ats terjadi, pada ketinggian 30.000 kaki
di atas Mediterania menuju Tel Aviv, sekelompok orang Belgia sedang
membahas apa yang mungkin bisa terjadi pada mereka ketika mereka
mendarat di Israel.
Sebanyak 23 aktivis pro-Palestina, dimana sebagian besar adalah
mahasiswa dari Brussel, mengambil bagian dalam aksi Flytilla (terbang
ke) Tel Aviv di Bandara Ben Gurion untuk memprotes pembatasan Israel
untuk bepergian ke wilayah Palestina.
Sementara di bagian belakang Boeing 747, orang-orang Belgia lain pergi ke Tel Aviv dengan skenario yang berbeda.
“Bagaimana jika polisi perbatasan Israel memisahkan kita,” kata seorang aktivis pada temannya.
“Apa yang akan terjadi jika mereka membawa kami ke terminal lain
seperti yang mereka lakukan dengan aktivis lain yang berhasil tiba di
Tel Aviv? Apakah kita harus menolak untuk meninggalkan pesawat? Atau
kita akan melakukan sesuatu yang ilegal, yang akan bertentangan dengan
tujuan protes ? “
Sebelumnya Boeing memulai perjalanannya pada hari yang sama di
Charles de Gaulle, Paris. Di mana hampir seratus aktivis Prancis
berencana untuk berpartisipasi dalam aksi Flytillah ke Tel Aviv, yang
kemudian oleh Israel mereka dimasukkan ke dalam daftar hitam warga yang
dilarang terbang dan masuk ke Israel.
Selama stop-over di Frankfurt, aktivis dari Belgia berhasil lolos
dari prosedur check-in. Sebagai penumpang berkumpul di pintu gerbang,
senyum kemenangan muncul di wajah para aktivis yang tersebar di antara
penumpang lain.
Setelah pesawat lepas landas di Frankfurt, Abdellah Boudani,
24-tahun mahasiswa ilmu politik dari Brussel, menjelaskan mengapa ia
mengambil bagian dalam aksi tersebut.
“Sudah jelas bahwa kekuatan yang ada tidak akan menekan Israel untuk
merubah jalurnya. Ternyata, perubahan harus datang dari upaya akar
rumput dan protes seperti ini”.
“Ide Flytilla datang dari Palestina sendiri yang mengatakan kepada
kami; “hak-hak kami tidak dihormati, namun hak Anda, sebagai orang
Eropa, tidak dihormati dengan baik pula bila Anda ingin mengunjungi
Palestina, dan mendarat di Bandara Ben Gurion. Anda harus berbohong jika
Anda ingin mengunjungi wilayah Palestina. Jika tidak, mereka tidak akan
membiarkan Anda masuk”.
“Jadi, mereka mengundang kami untuk menarik perhatian pada
ketidakadilan ini. Ini sangat sederhana.. Kami tidak akan membuat
masalah. Kami hanya akan ke Ben Gurion dan memberitahu mereka bahwa kami
di sini untuk mengunjungi Betlehem di Tepi Barat. Jika hukum berlaku,
Israel akan melakukan sisanya. “
Banyak dalam kelompok tersebut tidak mengenal satu sama lain atau
hanya bertemu pada dua minggu yang lalu di Brussels selama rapat akhir
tentang bagaimana melakukana aksi protes.
Di antara kelompok ini Fathallah Legsaï, 48 tahun, seorang sopir
taksi dari Brussels dan merupakan ayah dari tiga anak. Dia ditemani oleh
putrinya Cherine, yang tampaknya ingin sekali berpartisipasi dalam aksi
tersebut.
Seperti kebanyakan orang lain dalam kelompok, Hajar, 26 tahun
seorang penerjemah dari Brussels, mengatakan dia tidak pernah berkunjung
ke Israel dan wilayah Palestina.
“Kami masih menerima informasi dengan sangat baik, tentang
berita-berit aterkait Palestina. Namun sekarang kami ingin melihat
dengan mata kepala kami sendiri.”
Sebagian besar tiket pesawat para aktivis disponsori oleh
orang-orang yang ingin berkontribusi dalam aksi tersebut, namun tidak
mempunyai waktu karena pekerjaan mereka.
“Itulah mengapa ada begitu banyak siswa dalam kelompok kami,” jelas
Hajar. “Seorang wanita bahkan tidak tahu tiket saya seharga 400 euro dan
tersisa 100 euro untuk bibi saya”.
Dibawa ke penjara
Setelah ditahan di bandara Ben Gurion dan diletakkan di sebuah bus
di mana mereka ditahan selama empat jam, bus yang membawa para aktivis
akhirnya pindah dan melaju ke fasilitas penjara di dekat Beer Sheva di
gurun Negev, yakni dua jam dari bandara .
Setelah kelelahan karena tidak tidur malam, para aktivis turun dari
bus dan beberapa diantaranya dipandu menuju salah satu koridor penjara
sempit yang dipenuhi penjaga penjara, beberapa di antaranya mengambil
gambar dari para ‘pendatang’ baru.
Enam belas laki-laki dalam kelompok itu dipisahkan dari perempuan
dan dimasukkan ke dalam satu sel tahanan kecil sebelum diproses sebagai
tahanan di fasilitas penjara Ela yang baru.
Setelah berjejalan di bus selama enam jam, banyak dari tahanan
tertidur di lantai beton sel setelah akhirnya bisa berbaring. Kemudian,
setiap orang kembali digeledah dan dibawa ke daerah para tahanan yang
sebenarnya ‘, dimana mereka bertemu dengan seorang psikolog dan dokter.
Para tahanan diberi sarapan dan sebuah tas berisi sandal, seragam
bersih, sabun, dan pasta gigi dan sikat. Masing-masing dimasukkan ke
dalam empat sel dengan tempat tidur bertingkat.
Setelah sarapan, Cherine, putrid Fathallah tiba-tiba muncul di
daerah sel laki-laki dan segera berlari ke arah ayahnya, dan menangis.
Karena usia yang masih muda, ia dibiarkan tetap bersama dengan ayahnya.
Cherine adalah putri bungsu Fathallah itu. “Dia adalah yang termuda, tetapi pada saat yang sama paling matang,” kata Fathallah.
“Dia sering membuat masalah di sekolah, melompat dan memberontak. Dia
memiliki kepribadian yang sangat kuat. Aku membawanya dalam perjalanan
ini untuk menunjukkan bahwa ada banyak orang yang dirampas haknya di
dunia ini.”
“Dia hanya mengatakan kepada saya setelah sarapan bahwa setelah
mengalami ini, dia ingin kembali ke sekolah dan belajar hukum
internasional. Hal ini telah menjadi pengalaman yang mengubah hidupnya”.
Kemudian, para tahanan satu persatu dipanggil untuk diperiksa oleh
petugas imigrasi Israel yang meminta mereka menandatangani surat
perjanjian, yang menuntut mereka untuk berjanji tidak pergi ke wilayah
Palestina di masa depan dan menahan diri dari menyebabkan masalah atau
mengambil bagian dalam protes. Dalam beberapa kasus, surat perjanjian
tersebut juga memuat tentang deportasi.
Beberapa yang dibebaskan Israel adalah Gadiza Bouazani, 30 tahun
yang merupakan anggota dewan dari Utrecht, Belanda, yang salah ditangkap
oleh petugas keamanan bandara Israel. Ia bermaksud menjadikan Tel Aviv
sebagai menjadi titik awal dari tur backpacking selama empat minggu di
Timur Tengah.
“Kulit gelap saya dan rambut hitam ikal membuat mereka berpikir saya
adalah kelompok Arab di antara aktivis. Saya terkejut pada cara kami
diperlakukan dan saat ini saya hanya ingin kembali ke rumah”.
(rasularasy/arrahmah.com