Postingan Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Kata Sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kata Sahabat. Tampilkan semua postingan

ada apa dengan "SEGALA SESUATU INDAH PADA WAKTUNYA" ???

Written By Qassam Corporation on Selasa, 28 Januari 2014 | 13.31

"SEGALA SESUATU INDAH PADA WAKTUNYA" itu adalah ayat Injil Perjanjian Lama, Pengkhotbah 3:11



Banyak saudara kita kaum  muslimin  tanpa sengaja dan tanpa sadar mengutip kalimat tersebut dan menjadikannya sebuah status di facebook. 
"Segala sesuatu" akan indah pada waktunya. Kalimat yang perlu dikaji benar-benar (mungkin masuk wilayah debatable). "Segala sesuatu" dapat mengandung segala sesuatu yang bersifat positif tetapi juga mencakupi  segala yang negatif, seperti; "Iblis", "orang kafir", orang munafiq, orang musyrik, neraka dll yang berkonotasi negatif. 
Mohon diperhatikan pembahasan ini bukan bertujuan kepada masalah "sara" dan pada kalimat "segala sesuatu indah pada waktunya" yang mungkin debatable, tapi intinya bertujuan mengingatkan kepada saudara-saudara kaum muslimin tentang sebuah Grup SEMUA PASTI INDAH PADA WAKTUNYA.
Silahkan kita lihat  dari sisi bahasanya (Hermeneutika)   kalimat "Segala sesuatu" atau "Setiap sesuatu" (كل: 'kullu' by Arabic) atau everything dalam bahasa Ingrisnya Bible ini : He hath made "everything" beautiful in its time: also he hath set eternity in their heart, yet so that man cannot find out the work that God hath done from the beginning even to the end.  Kalimat tersebut apakah sama  dengan pengertian "Kullu bid'atin" yang biasanya dalam agama Islam sering diperdebatkan, "Setiap bid'ah" (dalam urusan agama : fi amrina) adalah sesat yang ditinjau dari sisi  istilahan atau epistemologi)[silahkan baca pengertian bid'ah secara etimologi (bahasa) dan epistemologi (istilah)].  Allahu a'lam.
 
Sebenarnya darimanakah sumber kalimat tersebut?

Inilah sumber dari kalimat tersebut:

Silahkan dilihat ayat-ayat Injil di bawah ini;

Pengkhotbah 3:1
Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.

Pengkhotbah 3:2
Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam;

Pengkhotbah 3:3
ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun;

Pengkhotbah 3:4
ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari;

Pengkhotbah 3:5
ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk;

Pengkhotbah 3:6
ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang;

Pengkhotbah 3:7
ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara;

Pengkhotbah 3:8
ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.

Pengkhotbah 3:9
Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan berjerih payah?

Pengkhotbah 3:10
Aku telah melihat pekerjaan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan dirinya.

Pengkhotbah 3:11
Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.

PENTING !


.Coba di cek.....Kira-kira adminnya siapa ya? 
http://www.facebook.com/pages/SEMUA-PASTI-INDAH-PADA-WAKTUNYA/110686132105?ref=ts banyak saudara kita yang muslim ikut dan suka dengan grup ini. 

 Ketahuilah
Wahai saudaraku yang terlanjur suka dengan Grup 'SEMUA PASTI INDAH PADA WAKTUNYA', ketahuilah itu adalah grup ummat Nasrani....

Rasulullah bersabda:
لَا يُحِبّ أَحَد قَوْمًا إِلَّا حُشِرَ مَعَهُمْ يَوْم الْقِيَامَة
“Tidaklah seseorang mencintai suatu kaum melainkan dia akan dikumpulkan bersama mereka pada hari kiamat nanti.”

HR. Thobroni dalam Ash Shogir dan Al Awsath. Perowinya adalah perowi yang shahih kecuali Muhammad bin Maimun Al Khiyath, namun ia ditsiqohkan. Lihat Majma’ Az Zawaid no. 18021
 
Bagi kita ummat Islam, alangkah indahnya sabda Rasulullah ini:

Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

''Dan sesungguhnya kelapangan pasti datang setelah kesempitan, dan sesungguhnya bersama kesulitan pasti disudahi dengan kemudahan.'' (HR. Ahmad)
 
***********************
Gambar discan oleh Anwar

Sahabatmu : Anwar dan Diky

Sekelumit Pesan Tentang Busana Akhwat

Written By Qassam Corporation on Selasa, 21 Januari 2014 | 16.06


Jogjakarta kian hari kian panas, mungkin memang Merapi hendak menunjukkan taringnya lagi. Pesona merapi jika dilihat dari jalan Jogja-Magelang begitu membahana tanpa cetar. Terkadang tergelitik juga, gunung sebesar itu kok gak cape berdiri mulu, tidur kek sekali-kali . Ketika Merapi meletupkan laharnya beberapa waktu silam masih cukup membekas mungkin bagi para korbannya. Semoga menjadi pelajaran tersendiri bahwa betapa api dunia itu begitu panas dan cukup untuk meluluhlantakkan kota Jogja yang tidak seberapa luas ini. Jika api dunia saja begitu hebatnya maka seberapa hebatnya api neraka?.

Jika membaca prolog paragraf pertama dengan apa yang akan dibahas dalam tulisan ini mungkin tidak ada sangkut pautnya namun itu sebagai pembuka saja dan ada baiknya dimasukkan ke hati. Pembahasan kali ini masih dalam satu tema dengan tulisan saya sebelumnya yakni masih seputar busana akhwat. Fokus pembicaraan tulisan ini adalah pada manset dan kaos kaki. Bukan hal yang begitu heboh memang namun cukup berarti karena sifatnya cukup fatal. Sebagaimana kita pahami bahwasanya aurot harus ditutup secara tepat dan komprehensif sehingga menjadi bekal tersendiri di hari kiamat kelak. Bekal di sini tentunya bekal kebaikan, bukannya bekal ke neraka.

Cukup menjadi polemik tersendiri ketika banyak artis yang kian bangga mengatakan bahwasanya dirinya telah berjilbab namun secara fakta pakaiannya jauh dari makna jilbab. Mana ada mengaku berjilbab tapi asyik memakai celana?, mana ada mengaku berjilbab tapi masih asyik mengenakan kaos oblong ketat di depan umum?. Bukan suatu hal yang tabu bahwa esensi jilbab telah berhasil dikaburkan oleh kaum munafiq dan kafirin. Para akhwat bercadar santer diisukan sebagai ciri-ciri cikal bakal teroris namun para wanita yang menjual tubuhnya secara murah dengan pakaian ketatnya itu meskipun mengaku berjilbab tapi seksi justru dianggap sebagai kaum muslimah yang moderat dan sebagai ciri muslimah yang sejati. Ahh, inilah akhir zaman.

Kembali ke tema utama, manset dan kaos kaki. Sepanjang pengamatan penulis, masih banyak akhwat yang kurang berhati-hati dalam menjaga aurotnya terutama pada bagian lengan. Perlu penulis perjelas, pengamatan yang penulis lakukan itu bukan suatu kesengajaan pengamat memandang si akhwat namun suatu ketidaksengajaan mata penulis menangkap hal itu.

Lengan gamis yang tidak ada kancing pada bagian ujung lengannya atau modelnya memang lurus dari lengan atas ke ujung akan lebih riskan. Ketika seumpama seorang akhwat akan mengambil suatu barang yang tinggi atau mengangkat tangannya maka 99% kemungkinan lengan baju akan tersingkap dan memperlihatnya lengan. Hal ini perlu kami ingatkan kembali bahwa lengan akhwat juga termasuk aurot maka harus dijaga agar tidak terbuka sesukanya. Langkah antisipasi yang sejatinya harus dilakukan jika memang tak ada dana untuk membeli manset maka tak ada salahnya diikat saja ujung lengan bajunya dengan karet gelang. Maksudnya alangkah betapa urgennya hal ini sehingga memang perlu tindakan-tindakan khusus.

belum ada judul, ada usul?

Written By Qassam Corporation on Jumat, 09 September 2011 | 19.58

SANG JEJAKA

Banyak laki laki idaman sekarang ini mengabaikan suatu masalah penting... Apa perkara penting tersebut...?
''Shalat Berjamaah''..

Tiga penyebab kenapa lelaki tidak shalat berjama'ah…
-1 Tak tahu..
-2 Tahu tapi tak mau tahu
-3 Mau Tapi ‘Malu’..


1.TAK TAHU
- Tak tahu bahwa lelaki berkewajipan untuk shalat fardhu secara berjema'ah lima kali sehari..
- Tak tahu bahwa lelaki lebih afdhal shalat di Masjid/Mushalla dibanding di rumah..
- Tak tahu shalat itu apa...
- Tak tahu dirinya Islam atau bukan. “Aku harus shalat kah..?”


2.TAHU TAPI TAK MAU TAHU..
- Tahu lelaki harus menjaga shalat berjemaah untuk menampung dosa dan tanggung jawab yang banyak..(kecenderungan lelaki masuk neraka yang tinggi)..tapi tetap MALAS dan TIDAK MAU TAHU...
-“Aku banyak pekerjaan dan tak ada waktu untuk berjalan ke Masjid/Mushalla”
- Tahu masjid ada dimana..adzan pun terdengar setiap waktu..tapi sedang asyik dengan internetan dulu...


3. MAU TAPI “MALU”
- Malu di’cap’ lelaki yang shaleh..menjaga solat lima waktu.
- Malu di’panggil’ anak baik..kurang modern
- Malu diledekin teman atau tetangga..takut dikatakan “buang tabiat''..
- Malu berpakaian muslim..berkopiah ke Masjid/Mushalla..
(Siapa suruh..? Lu mau pakai jeans lusuh dengan baju Superman pun..tak ada yang larang bro? atau baju yang sedang lu pakai ketika mendengar adzan aja pergi shalat...asal bersih tak masalah…)
- Mau tapi tak ada yang mengajak..malu pergi sendiri..takut diperhatiin orang yang ada disitu...


Bangkitlah wahai lelaki!
Apapun alasan lu...gua tak bisa diterima bro…Itu cerita lama….

Bangkitlah wahai pemuda muslim..kitalah yang akan memimpin peradapan dunia akhir zaman..
Setidaknya kita berubah karena kita mengingginkan syurga...


Semua kita mau menjadi mukmin yang kuat..
Kebiasaan lelaki berumur ‘remaja menjelang dewasa’ adalah...
ketika nafsu makan merajalela dan berkuasa..! Itu adalah umur membesar dan membina karakter...Metabolism badan akan sangat tinggi..menyebabkan para lelaki lupa..mereka sudah makan banyak sekali..!
Kenapa lupa..? Karena mereka cepat lapar...!

Jadi apa masalahnya dengan lelaki kuat makan..metabolism tinggi dan cepat lapar ketika umur umur segitu..?

Tak ada masalah..cuma BAKAL menjadi masalah 5 atau 10 tahun akan datang...
Disaat sang lelaki dan isteri sama-sama ‘mengandung’..membawa ‘beban’ perut ke sana sini...

MARI MENJADI MUKMIN GAGAH..KUAT..SEHAT FISIK DAN MENTAL..
(duka tah si dirta YHM meunang ngopi timana hehehe :)

Puasa Mestinya Luar Biasa! (Cerita Sahabat)

Written By Qassam Corporation on Jumat, 26 Agustus 2011 | 13.36

Ramadan kali ini membawa nikmat tersendiri bagi saya. Betapa tidak? Pertama, saya diundang beberapa kali oleh stasiun televisi terkait ”7 Keajaiban Rezeki” yang kebetulan menjadi buku terlaris dan seminar terbesar di Indonesia sepanjang 2010-2011. Kedua,7 Keajaiban Rezeki diseminarkan 3 kali di Hongkong dan 2 kali di Jepang, dengan dukungan penuh dari Dompet Dhuafa. Dan tentu saja, selama di Jepang saya menyempatkan diri untuk jalan-jalan. Katakanlah di Tokyo, Chiba, Ibaraki, Tsukuba, Hamamatsu, Yokohama, dan Shizuoka (Gunung Fuji). Nah, selama berada di sana setidaknya ada tiga hikmah pembelajaran yang saya petik. Dan tiga hikmah inilah yang akan saya share kepada Anda. Boleh?
Pertama, keramahan. Jamak diketahui, Tokyo merupakan salah satu kota dengan penduduk paling padat sedunia. Lihat saja pusat keramaian di Shibuya, yang kebetulan menjadi lokasi shooting film Hachiko, Too Fast Too Furious (Tokyo Drift), dan Resident Evil terbaru. Di sana, ribuan orang menyeberang jalan setiap menitnya. Benar-benar ribuan. Semuanya bergegas. Namun demikian, mereka tetap menjaga keramahan. Contoh kecil saja, di kereta-kereta mereka memberikan prioritas duduk kepada lansia. Selain itu, mereka juga menghargai pejalan kaki, orang asing, kebersihan, dan antrian.
Walau cenderung individualis khas perkotaan, namun mereka tidak pernah melupakan senyuman dan bungkukan badan ketika berinteraksi. Beberapa kali saya masuk toko dan tidak membeli apapun. Tahu apa yang terjadi? Ternyata si pelayan toko tetap mengantar saya sampai di pintu, membungkukkan badan, dan mengucapkan “Terima kasih banyak,” sambil tersenyum lebar. Ramah kan? Bayangkan, kalau saya membeli sesuatu.
Kedua, kejujuran. Bukan cuma paling padat, Tokyo juga salah satu kota dengan biaya hidup paling mahal sedunia. Sekadar contoh, untuk menggunakan jasa taksi dari airport Narita ke pusat kota Tokyo, Anda harus merogoh uang hampir Rp 3 juta rupiah! Parkir di pusat kota di Tokyo? Hm, jangan ditanya! Per jam bisa habis ratusan ribu rupiah! Saking mahalnya properti di sana, KPR-nya bisa 40 tahun! Kendati dibebani biaya hidup begitu tinggi, anehnya di sana hampir-hampir tidak ada pencurian, penjambretan, dan perampokan. Bahkan kalau barang Anda tertinggal di suatu tempat, tidak perlu panik.
Kembalilah ke tempat tersebut dan ambillah barang Anda. Kemungkinan besar, tetap utuh. Lihatlah, betapa jujurnya mereka. Padahal banyak di antara mereka yang tidak beragama. Di KTP mereka saja tidak tercantum agama, karena pemerintah menganggap agama tidak terlalu penting dalam kehidupan bernegara. Kuil di Meiji-Jingu, di Harajuku, hanya menjadi simbol spiritual dan tidak diikat oleh aturan agama tertentu.
Ketiga, harga diri. Jepang adalah negara ulet, jauh dari budaya malas-malasan. Tambahan lagi, mereka punya harga diri, jauh dari budaya meminta-minta. Perlu dicatat, tidak semua orang makmur di sana. Itu fakta.
Akan tetapi, jangankan meminta-minta, menerima tips saja dianggap memalukan bagi mereka. Baik satpam, janitor, pelayan, atau siapa saja, tidak terbiasa menerima tips. Dalam konteks lain, di sana pejabat-pejabat yang ketahuan korupsi atau sejenisnya, pasti mundur bahkan bunuh diri. Saking malunya! Di Indonesia? Boro-boro mundur. Disuruh mundur saja, masih bersikeras. Boro-boro bunuh diri. Salah-salah orang lain yang dibunuhnya.
Walau saya berpuasa 2 sampai 3 jam lebih lama dibanding di Indonesia, walau saya sama sekali tidak merasakan suasana bulan puasa, walau saya susah sekali mencari tempat salat dan makanan yang halal, namun semua kendala itu saya anggap ringan. Apalagi setelah saya memetik tiga hikmah di atas. Puasa hendaknya luar biasa.
Karena menjadikan kita insan yang lebih jujur dan lebih menjaga harga diri. Itu yang semestinya. Bukankah puasa itu ibadah rahasia dan tidak bisa riya-riyaan? Bukankah puasa itu melatih pengendalian diri bahkan terhadap sesuatu yang halal? Bukankah di bulan puasa digalakkan untuk mengeluarkan sedekah, zakat harta, dan zakat fitrah? Memberi, bukan berharap diberi.
Ingatlah, Indonesia merdeka ketika Ramadan. Fatahillah merebut kembali Sunda Kelapa ketika Ramadan. Nabi Muhammad memenangkan perang Badar ketika Ramadan. Bahkan Nabi Muhammad menaklukkan Mekkah ketika Ramadan. Luar biasa kan? Lha, apakah pantas kita mengisi Ramadan hanya dengan malas-malasan dan tidur-tiduran? Tolong dicatat, dalam Ramadan, kalau diam saja adalah ibadah, apalagi berkata-kata yang baik? Kalau tidur saja ibadah, apalagi bekerja dan bekinerja? Sekali lagi, puasa hendaknya luar biasa! Right?. Ippho

Berjalan 50 km Sehari, Demi Tanggung Jawab Keluarga

Written By Qassam Corporation on Sabtu, 13 Agustus 2011 | 09.22

Kisah inspiratif kita kali ini datang dari seseorang yang begitu sangat sederhana, namun penuh dengan pelajaran yang amat sangat berharga. Seorang kakek berusia 71 tahun, penjual es Dawet keliling yang tinggal di pinggiran kota Surakarta.

Pak Sukimin, nama dari kakek tersebut, seorang pahlawan keluarga yang menginjak usia renta, tapi sama sekali tidak surut semangatnya untuk terus berjuang dan bekerja keras. Tidak kurang dari 50 kilo meter ditempuhnya setiap hari, dengan memikul gerobak es seberat 40 kg, mulai dari jam 5 pagi sampai jam 8 malam. Semua itu terdorong atas kuatnya keinginan bahwa dia menjauhi sifat meminta- minta dan karena pemenuhan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga.

Selama 40 tahun lebih, pekerjaan tersebut telah dilakukannnya. Dan Subhanallah, kerja keras setiap hari itupun ternyata tidak terus membuatnya jauh dari sang maha kuasa. Walau dalam hujan dan panas, ketika mendengar adzan, seketika itu pula pak Sukimin mencari masjid terdekat dan menjalankan sholat berjamaah. Selain itu, cara belajar keikhlasannya yang begitu sangat sederhana, namun menyentuh hati semua orang yang melihatnya adalah dengan penerimaannya atas pembagian rejeki yang diterimanya dari Allah subhanahu wataala.

"Saya pernah waktu sholat, gerobak saya tinggal didepan masjid. Saya sudah pasrahkan sama Allah saja. Tapi ternyata ada orang jahat yang mengambil semua uang yang telah saya dapat seharian. Tapi saya ikhlas kok. Kalau sampai diambil orang berarti itu bukan rejeki saya. Biar untuk dia saja tidak apa- apa, semoga lebih berguna untuk dia." Cerita bapak 5 orang anak ini.

Menurut pak Sukimin, dalam hidup ini manusia mendapatkan peran yang bermacam- macam, namun satu hal yang tidak boleh kita lupakan, pekerjaan apapun itu adalah untuk mencari ridho Allah. Saja. Dan hal itulah yang meringankan hatinya jika musibah datang menghampiri. " Seringkali ada orang yang beli namun tidak bayar, saya menunggu sampai lama ternyata orangnya tidak membayar. ya saya tidak apa- apa. Kan sudah diminum juga. Sah kok itu untuk dia." lanjutnya. Beliau juga tidak terlalunya sedih saat tubuh rentanya telah lelah memikul gerobak yang sedemikian berat, sehingga kakinya tersandung dan pecahlah semua barang dagangannya. " Lah wong sudah jatuh, mungkin belum rejeki saya. ya nanti kapan- kapan berarti saya diajari Allah disuruh hati- hati lagi". Subhanallah, kemiskinan ternyata tidak menghalangi batinnya untuk menerapkan ilmu ikhlas kepada sesamanya.

Memang, kehidupan ini tidak sempurna dan tidak banyak memberi kesenangan kepada pak Sukimin, namun hal itu juga tidak membuat beliau ragu untuk membagikan ilmunya kepada yang ingin berguru kepadanya. " Rejeki itu sudah diatur sang maha kuasa. Saya ini hanya perantara saja. saya sama sekali tidak takut tersaingi. Malah ilmu yang saya berikan nanti itu, akan menemani saya saat saya mati nanti. saya percaya itu". Sama sekali tidak ada rasa permusuhan ataupun iri dengki dalam ketatnya persaingan dan beratnya hidup. Dalam susahnya mencari rupiah, justru membuat pak Sukimin semakin berbesar hati untuk berbagi. Hal yang sangat jarang untuk bisa dilakukan, bahkan oleh orang kaya sekalipun, jika tidak murni adanya perbuatan itu yang hanya karena Allah.

Kesabarannya dalam menghabiskan jatah hidup detik per detik telah menempanya menjadi seorang manusia yang kuat, tabah dan tidak pengeluh. Hal inilah juga yang menyebabkan beliau tetap bersemangat untuk menjual dagangannya walaupun dalam kondisi cuaca apapun." Kalau lagi hujan, ya saya tidak bisa berteduh, harus tetap jalan. Nanti kasihan ibu nunggu dirumah malah kawatir. Akhirnya saya pakai saja plastik untuk sekedar menutup tubuh agar tidak dingin " Kata Kakek dari 11 cucu tersebut.

Bagi pak sukimin, bukan kemiskinan yang menyakitkan hatinya, tapi saat dia tidak bisa bekerja lagi untuk menyenangkan hati keluarganya, terutama sang istri. Penghasilan yang hanya 30 ribu rupiah sehari, tidak mengurangi kesyukurannya atas jatah rejeki yang telah dibagikan dari sang maha kuasa. " Saya dan istri selalu bersyukur dengan apa yang ada. buat saya yang penting istri dan keluarga senang. Jangan pernah iri dengan yang dimiliki orang lain"
Subhanallah, betapa akan sangat membahagiakan mempunyai ayah, ataupun suami yang bisa menjadi tauladan seperti beliau. Beliau sangat setia kepada keluarga dan setia kepada tanggung jawab pekerjaannya.Keluguan dan kesederhanaan serta keikhlasan yang sangat apa adanya memberikan kesan tersendiri bagi siapapun yang melihatnya. Semoga Allah selalu menjaga beliau, sebagai balasan kuatnya penjagaan amanah beliau atas kebahagiaan keluarganya.
(Syahidah/Voa-islam/Qassamteam.tk)

Ikhwan Cengeng

Written By Qassam Corporation on Sabtu, 23 Juli 2011 | 09.49



jadi Ikhwan jangan cengeng..
Dikasih amanah pura-pura batuk..
Nyebutin satu persatu kerjaan biar dikira sibuk..
Afwan ane sakit.. Afwan PR ane numpuk..
Afwan ane banyak kerjaan, kalo nggak selesai bisa dituntut..
Afwan ane ngurus anu ngurus itu jadinya suntuk..
Terus dakwah gimana? digebuk?

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Dikit-dikit dengerin lagunya edcoustic..
udah gitu yang nantikanku di batas waktu, bikin nyelekit..
Ke-GR-an tuh kalo ente melilit..
Kesehariannya malah jadi genit..
Jauh dari kaca jadi hal yang sulit..
Hati-hati kalo ditolak, bisa sakiiiittt…
Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Dikit-dikit SMSan sama akhwat pake Paketan SMS biar murah..
Rencana awal cuma kirim Tausyiah..
Lama-lama nanya kabar ruhiyah.. sampe kabar orang rumah..
Terselip mikir rencana walimah?
Tapi nggak berani karena terlalu wah!
Akhirnya hubungan tanpa status aja dah!

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Abis nonton film palestina semangat membara..
Eh pas disuruh jadi mentor pergi entah kemana..
Semangat jadi penontonnya luar biasa..
Tapi nggak siap jadi pemainnya.. yang diartikan sama dengan hidup sengsara..
Enak ya bisa milih-milih yang enaknya aja..

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Ngumpet-ngumpet buat pacaran..
Ketemuan di mol yang banyak taman..
Emang sih nggak pegangan tangan..
Cuma lirik-lirikkan dan makan bakso berduaan..
Oh romantisnya, dunia pun heran..
Kalo ketemu Murabbi atau binaan..
Mau taruh di mana tuh muka yang jerawatan?
Oh malunya sama Murabbi atau binaan?
Sama Allah? Nggak kepikiran..
Yang penting nyes nyes romantis semriwing asoy-asoy-yaannn. .

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Disuruh infaq cengar-cengir. .
Buat beli tabloid bola nggak pake mikir..
Dibilang kikir marah-marah dah tuh bibir..
Suruh tenang dan berdzikir..
Malah tangan yang ketar-ketir. .
Leher saudaranya mau dipelintir!

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Semangat dakwah ternyata bukan untuk amanah..
Malah nyari Aminah..
Aminah dapet, terus Walimah..
Dakwah pun hilang di hutan antah berantah..
Dakwah yang dulu kemanakah?
Dakwah kawin lari.. lari sama Aminah..
Duh duh… Amanah Aminah..
Dakwah.. dakwah..
Kalah sama Aminah..

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Buka facebook liatin foto akhwat..
Dicari yang mengkilat..
Kalo udah dapet ya tinggal sikat..
Jurus maut Ikhwan padahal gak jago silat..
“Assalammu’alaykum Ukhti, salam ukhuwah.. udah kuliah? Suka coklat?”
Disambut baik sama ukhti, mulai berpikir untuk traktir Es Krim Coklat ..
Akhwatnya terpikat..
Mau juga ditraktir secara cepat..
Asik, akhirnya bisa jg ikhtilat…
yaudah.. langsung TEMBAK CEPAT!
Akhwatnya mau-mau tapi malu bikin penat..
badan goyang-goyang kayak ulat..
Ikhwannya nyamperin dengan kata-kata yang memikat..
Kasusnya sih kebanyakan yang ‘gulat’..
Zina pun menjadi hal yang nikmat..
Udah pasti dapet laknat..
Duh.. maksiat.. maksiat…

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Ilmu nggak seberapa hebat..
Udah mengatai Ustadz..
Nyadar diri woi lu tuh lulusan pesantren kilat..
Baca qur’an tajwid masih perlu banyak ralat..
Lho kok udah berani nuduh ustadz..
Semoga tuh otaknya dikasih sehat..

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Status facebook tiap menit ganti..
Isinya tentang isi hati..
Buka-bukaan ngincer si wati..
Nunjukkin diri kalau lagi patah hati..
Minta komen buat dikuatin biar gak mati bunuh diri..
Duh duh.. status kok bikin ruhiyah mati..
Dikemanakan materi yang ustadz sampaikan tadi?

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Ngeliat ikhwan-ikhwan yang lain deket banget sama akhwat mau ikutan..
Hidup jadi kayak sendirian di tengah hutan rambutan..
Mau ikutan tapi udah tau kayak gitu nggak boleh.. tau dari pengajian..
Kepala cenat-cenut kebingungan. .
Oh kasihan.. Mendingan cacingan..

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Ngeliat pendakwah akhlaknya kayak preman..
Makin bingung nyari teladan..
Teladannya bukan lagi idaman..
Hidup jadi abu-abu kayak mendungnya awan..
Mau jadi putih nggak kuat nahan..
Ah biarlah kutumpahkan semua dengan cacian makian..
Akhirnya aku ikut-ikutan jadi preman..
Teladan pun sekarang ini susah ditemukan..

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Diajakain dauroh alasannya segudang..
Semangat cuma pas diajak ke warung padang..
Atau maen game bola sampe begadang..
Mata tidur pas ada lantunan tilawah yang mengundang..
Tapi mata kebuka lebar waktu nyicipin lauk rendang..
Duh.. berdendang…

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Bangga disebut ikhwan.. hati jadi wah..
Tapi jarang banget yang namanya tilawah..
Yang ada sering baca komik naruto di depan sawah..
Hidup sekarang jadinya agak mewah..
Hidup mewah emang sah..
Tapi.. kesederhanaan yang dulu berakhir sudah?

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Dulunya di dakwah banyak amanah..
Sekarang katanya berhenti sejenak untuk menyiapkan langkah..
Tapi entah kenapa berdiamnya jadi hilang arah..
Akhirnya timbul perasaan sudah pernah berdakwah..
Merasa lebih senior dan lebih mengerti tentang dakwah..
Anak baru dipandang dengan mata sebelah..
Akhirnya diam dalam singgasana kenangan dakwah..
Dari situ bilang.. Dadaaahhh.. Saya dulu lebih berat dalam dakwah..
Lanjutin perjuangan saya yah…

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Nggak punya duit jadinya nggak dateng Liqo..
Nggak ada motor yaa halaqoh boro-boro..
Murabbi ikhlas dibikin melongo..
Binaan nggak ada satupun yang ngasih info..
Ngeliat binaan malah pada nonton tv liat presenter homo..
Adapula yang tidur sambil meluk bantal guling bentuk si komo..

Oh noo…

Jadi Ikhwan jangan cengeng…
Jadi Ikhwan jangan cengeng…
Jadi Ikhwan jangan cengeng…
Jadi Ikhwan jangan cengeng…
Jadi Ikhwan jangan cengeng…

Akhi… banyak sekali sebenarnya masalah Ikhwan..
Dimanapun harokahnya…

Akhi.. Di saat engkau tak mengambil bagian dari dakwah ini..
Maka akan makin banyak Ikhwan lain yang selalu menangis di saat mereka mengendarai motor.. Ia berani menangis karena wajahnya tertutup helm… Ia menangis karena tak kuat menahan beban amanah dakwah..

Akhi.. Di saat engkau kecewa oleh orang yang dulunya engkau percaya.. Ikhwan-ikhwan lain sebenarnya lebih kecewa dari mu.. mereka menahan dua kekecewaan.. kecewa karena orang yang mereka percaya.. dan kecewa karena tidak diperhatikan lagi olehmu.. tapi mereka tetap bertahan.. menahan dua kekecewaan… karena mereka sadar.. kekecewaan adalah hal yang manusiawi.. tapi dakwah harus selalu terukir dalam hati..

Akhi.. disaat engkau menjauh dari amanah.. dengan berbagai alasan.. sebenarnya, banyak ikhwan di luar sana yang alasannya lebih kuat dan masuk akal berkali-kali lipat dari mu.. tapi mereka sadar akan tujuan hidup.. mereka memang punya alasan.. tapi mereka tidak beralasan dalam jalan dakwah.. untuk Allah.. demi Allah.. mereka.. di saat lelah yang sangat.. masih menyempatkan diri untuk bangun dari tidurnya untuk tahajjud.. bukan untuk meminta sesuatu.. tapi mereka menangis.. curhat ke Allah.. berharap Allah meringankan amanah mereka.. mengisi perut mereka yang sering kosong karena uang habis untuk membiayai dakwah…

Akhi.. Sungguh.. dakwah ini jalan yang berat.. jalan yang terjal.. Rasul berdakwah hingga giginya patah.. dilempari batu.. dilempari kotoran.. diteror.. ancaman pembunuhan….. dakwah ini berat akhi.. dakwah ini bukan sebatas teori.. tapi pengalaman dan pengamalan… tak ada kata-kata ‘Jadilah..!’ maka hal itu akan terjadi.. yang ada ‘jadilah!’ lalu kau bergerak untuk menjadikannya. . maka hal itu akan terjadi.. itulah dakwah… ilmu yang kau jadikan ia menjadi…

Akhi.. jika saudaramu selalu menangis tiap hari..
Bolehkah mereka meminta sedikit bantuanmu..? meminjam bahumu..? berkumpul dan berjuang bersama-sama… ?
Agar mereka dapat menyimpan beberapa butir tangisnya.. untuk berterima kasih padamu..
Juga untuk tangis haru saat mereka bermunajat kepada Allah dalam sepertiga malamnya..
“Yaa Allah.. Terimakasih sudah memberi saudara seperjuangan kepadaku.. demi tegaknya Perintah dan laranganMu… Kuatkanlah ikatan kami…”

“Yaa Allah, Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta kepada-Mu, bertemu dalam taat kepada-Mu, bersatu dalam da’wah kepada-Mu, berpadu dalam membela syariat-Mu.”

“Yaa Allah, kokohkanlah ikatannya, kekalkanlah cintanya, tunjukillah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tidak pernah pudar.”

“Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal kepada-Mu. Hidupkanlah hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu. Matikanlah kami dalam keadaan syahid di jalan-Mu.”

“Sesungguhnya Engkaulah Sebaik-baik Pelindung dan Sebaik-baik Penolong. Yaa Allah, kabulkanlah. Yaa Allah, dan sampaikanlah salam sejahtera kepada junjungan kami, Muhammad SAW, kepada para keluarganya, dan kepada para sahabatnya, limpahkanlah keselamatan untuk mereka.

Subhanallah, Gara-Gara Tilawah Al-Qur'an, Satu Keluarga Masuk Islam

Written By Qassam Corporation on Rabu, 13 Juli 2011 | 12.46



REPUBLIKA.CO.ID, AL-QUDS - Yayasan Pengelola Al-Aqsha (YPA) yang Suci, menyelenggarakan pernikahan antara Ghalib Samir Kiwan dan Zainab Muhammad Nuhas—keduanya dari kota Haifa—di Masjid Al-Aqsha, Sabtu (28/5).

Pernikahan mereka sengaja digelar di salah satu kiblat umat Islam tersebut untuk mendapatkan berkah dari Allah SWT. Dalam acara akad nikah ini, turut hadir keluarga kedua mempelai, dan sejumlah jamaah shalat. Ketua YPA, Jamal Rasyid, juga turut hadir dan mendokan sang pengantin.

Syekh As'ad, Imam Masjid Al-Istiqlal di Haifa bertindak sebagai penghulu. Ia mendoakan kedua mempelai agar pernikahan yang mereka jalani diberkahi Allah SWT. Ia juga berharap keduanya dapat menjalani kehidupan sebagai suami istri selama mungkin, dalam kehidupan yang penuh kebaikan dan keberkahan.

"Pernikahan di masjid ini (Aqsha) adalah pernikahan mubarak (yang diberkahi), dan tugas kita untuk memakmurkannya selama-lamanya," kata Syekh As'ad dalam khutbah nikahnya.

"Selama ini Masjid Aqsha menyelenggarakan pernikahan untuk pemuda dan pemudi Palestina, namun hari ini kedua mempelainya berasal dari Haifa, Israel. Kami meminta para pemuda dan pemudi agar menikah dengan cara penuh berkah seperti pernikahan ini," pesan As'ad.

Pernikahan Ghalib dan Zainab ini menjadi istimewa karena, sang mempelai putri adalah mualaf yang baru dua tahun lalu memeluk Islam. Kedekatan dan keterikatan Zainab dengan Islam bermula empat tahun lalu saat ia tertarik mendengar bacaan kitab suci Al-Qur'an, dan mengikuti tayangan program agama Islam di televisi satelit.

Kedua hal inilah yang mengubah jalan hidupnya dan seluruh keluarganya—kedua orang tua dan empat saudara perempuannya—secara tiba-tiba. Dua tahun lalu, mereka semua—satu keluarga—memutuskan masuk Islam dan mengucapkan dua kalimah syahadat. "Ibu saya merasa tenang jiwanya ketika mendengar bacaan (tilawah) Al-Qur'an, meskipun beragama Kristen. Demikian pula yang dirasakan oleh ayah saya," tutur Zainab.

Setelah itu, keluarga ini kian intensif mendengarkan tilawah Al-Qur'an dan mengikuti kajian-kajian keislaman yang ditayangkan di televisi kabel. Inilah yang kemudian menguatkan tekad untuk segera bersyahadat.

"Ini seperti firman Allah dalam Al-Qur'an; "Janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi kafir; sesungguhnya mereka tidak sekali-kali dapat memberi mudharat kepada Allah sedikit pun. Allah berkehendak tidak akan memberi sesuatu bahagian (dari pahala) kepada mereka di hari akhirat, dan bagi mereka azab yang besar," kata Zainab seraya mengutip surah Ali Imran ayat 176 dengan fasih.

Adapun Ghalib, dengan mata berkaca-kaca menuturkan kisah pernikahannya dengan Zainab. "Tiga pekan sebelum menikah, saya dan tunangan saya membaca surah Al-Isra' bersama-sama. Setelah itu saya berziarah ke Masjid Al-Aqsha," ujarnya.

"Dan entahlah, saya tidak tahu apa yang mendorong langkah saya untuk mendirikan shalat di Masjid Qubbatush Shahra (Kubah Emas). Setelah shalat dua rakaat, saya membaca surat Al-Isra' hingga selesai. Di sana pula kami berdoa dan bertekad untuk menikah," tutur Ghalib.

Menurut Ghalib, sebelumnya ia dan Zainab tidak mengetahui jika di Masjid Al-Aqsha juga bisa dilakukan pernikahan. Suatu ketika, usai melaksanakan shalat di Masjid Al-Istiqlal, ia langsung menemui Syekh As'ad—imam masjid—dan menyatakan keinginannya untuk menikah.
"Syekh As'ad mengatakan di Masjid Al-Aqsha juga bisa diselenggarakan pernikahan yang diurus oleh YPA. Akhirnya, kami pun menikah di sini. Rasanya seperti mimpi," kata Ghalib penuh haru.

Ketua YPA, Jamal Rasyid, mengucapkan selamat dan mendoakan pasangan suami istri ini agar mendapatkan keturunan yang saleh yang akan menegakkan Al-Aqsha dan membela kaum Muslimin. "Berbahagialah kalian berdua dengan pernikahan yang diberkahi ini. Pernikahan kalian adalah pernikahan yang baik. Dan kami doakan agar Allah menganugerahi kalian anak keturunan yang saleh dan berguna bagi umat, insya Allah," harap Jamal.



Redaktur: cr01
Sumber: www.aqsa.ma

Sya'ban: Bulan Mulia yang Sering Dilalaikan Manusia

Written By Qassam Corporation on Senin, 11 Juli 2011 | 18.13

Oleh: Badrul Tamam
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya.
Saudaraku, kaum muslimin! Bulan Rajab telah berlalu meninggalkan kita. Sya'ban telah datang menggantikannya. Sedangkan Ramadhan sudah berada di depan menunggu giliran. Maka sungguh beruntung orang yang mengisi hidupnya untuk beribadah terutama pada bulan-bulan yang mulia. Terus beristi'dad (bersiap diri) menyambut bulan penuh berkah dan pahalabsar dengan puasa dan amal shalih lainnya.
Pada dasarnya seluruh bulan, tahun, siang dan malam, semuanya adalah waktu untuk beribadah dan beramal shalih. Sementara takdir dan ajal kematian tetap berjalan pada waktu-waktu tersebut. Hanya saja takdir dan ajal bagi masing-masing insan tak ada yang tahu kecuali Dzat Yang menetapkannya. Maka orang beruntung adalah yang memperhatikan siang dan malamnya untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan amal shalih. Harapannya, semoga saat ajal datang menjemput ia menjadi orang beruntung yang menutup umurnya dengan husnul khatimah. Sehingga ia aman dari siksa kubur dan selamat dari jilatan api neraka di akhriat. Dan sesungguhnya Allah tidak menjadikan perintah beramal bagi seseorang usai dan berhenti kecuali dengan kematian.
Allah Ta'ala berfirman,
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ 
"Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)." (QS. al-Hijr: 99)
Dan Allah tetap memerintahkan beramal selama mereka masih berada di negeri taklif, dunia. Allah Ta'ala berfirman,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." (QS. Al-Dzariyat: 56)
Setiap kesibukan yang dilakoni seseorang yang kosong dari ketaatan kepada Allah dan tidak mendapat ridha-Nya, maka itu kegiatan yang merugi. Dan setiap waktu yang diisi dengan kegiatan yang kosong dari dzikrullah dan hari akhirat maka akan menjadi penyesalan baginya pada hari kiamat. Maka manusia terbaik adalah yang panjang umurnya dan bagus amalnya. Sebaliknya, manusia terburuk adalah orang yang panjang umurnya namun buruk amalnya.
. .  Maka orang beruntung adalah yang memperhatikan siang dan malamnya untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan amal shalih. Harapannya, semoga saat ajal datang menjemput ia menjadi orang beruntung yang menutup umurnya dengan husnul khatimah.
Sya'ban Bulan yang Sering Dilalaikan   
Pada bulan Sya'ban, umumnya, umat Islam sibuk dengan persiapan-persiapan menyambut Ramadlan. Tetapi seringnya, persiapan itu berkisar hanya masalah materi. Bagi pedagang, mereka sibuk menyiapkan stok untuk menghadapi gebyar Ramadlan, yang biasanya sangat ramai. Bagi panitia pengajian, sibuk mengadakan acara-acara penutupan pengajian, biasanya diisi dengan makan-makan atau rekreasi bareng. Di sebagian daerah malah ada yang mengadakan lebih buruk dari itu, yaitu padosan (mandi bareng) yang terkumpul di satu sungai, sumber air, sumur keramat atau tempat lainnya yang di situ berkumpul laki-laki dan perempuan. Mereka menyambut Ramadhan dengan kemaksiatan, khurafat, dan keyakinan yang tak berdasar.
Ada juga kesimpulan konyol dari sebagian masyarakat yang menjadikan Sya’ban sebagai bulan pelampiasan. Karena mumpung belum Ramadhan, mereka puas-puaskan berbuat maksiat, “Mumpung belum Ramadhan. Nanti kalau sudah Ramadhan, puasa kita bisa tidak sah”, kalimat terkadang mampir ke telinga kita.
Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid Radhiyallahu 'Anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ
“Bulan Sya’ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadhan.” (HR. An Nasa’i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Ibnul Hajar rahimahullah berkata: "Dinamakan Sya'ban karena kesibukan mereka mencari air atau sumur setelah berlalunya bulan Rajab yang mulia, dan dikatakan juga selain itu." (al-Fath: 4/251)
Faidah Beribadah Saat Banyak Orang Lalai
Dari sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam di atas menunjukkan tentang anjuran mengerjakan ketaatan dan amal ibadah pada waktu-waktu yang dilalaikan orang sebagaimana qiyamul lail (shalat tahajjud), shalat dhuha saat matahari mendekati pertengahan (shalat awwabin), berdzikir di pasar, dan semisalnya.
Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits di atas terdapat dalil mengenai dianjurkannya melakukan amalan ketaatan di saat manusia lalai. Inilah amalan yang dicintai di sisi Allah.” (Lathaif Al Ma’arif, 235)
Beribadah pada saat-saat yang banyak dilalaikan orang akan lebih ikhlas sehingga pahalanya semakin besar. Karena beribadah di saat itu akan lebih berat dirasakan oleh jiwa, karena biasanya jiwa kita ini akan terpengaruh dengan apa yang dilihatnya. Maka apabila banyak orang yang lalai, maka akan semakin berat bagi jiwa untuk menjalankan ketaatan. Oleh sebab itu, secara umum, meningkatkan ibadah pada bulan Sya'ban dan menjaga diri dari ikut-ikutan manusia yang memanfaatkan aji mumpung sebelum Ramadhan adalah sesuatu yang berat. Karenanya, maukah kita menjadi orang yang istimewa di bulan in?
Beribadah pada saat-saat yang banyak dilalaikan orang akan lebih ikhlas sehingga pahalanya semakin besar. Karena beribadah di saat itu akan lebih berat dirasakan oleh jiwa, karena biasanya jiwa kita ini akan terpengaruh dengan apa yang dilihatnya.
Petunjuk Menghidupkan Sya'ban
Dalam memuliakan Sya'ban dianjurkan melaksanakan ketaatan dan amal ibadah yang telah disyariatkan secara umum, seperti qiyamullail, shalat sunnah rawatib,  membaca al-Qur'an, bersedekah dan lainnya. Namun ada satu amal yang mendapat perhatian Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam secara khusus. Beliau menghidupkan Sya'ban dengan memperbanyak puasa, hamper seluruhnya. Sehingga terjadi perbincangan serius di kalangan ulama tentang puasa penuh di bulan Sya'ban.
Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid Radhiyallahu 'Anhuma, beliau berkata, “Wahai Rasulullah! aku tidak pernah melihatmu berpuasa pada satu bulan dari bulan-bulan yang ada sebagaimana puasamu pada bulan Sya’ban.”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
“Bulan Sya’ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. An Nasa’i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ . فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ
“Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berbuka sampai kami katakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha juga mengatakan,
لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ
“Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak biasa berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya.” (HR. Bukhari no. 1970 dan Muslim no. 1156)
Dalam lafazh Muslim, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,
كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيلاً
“Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya. Namun beliau berpuasa hanya sedikit hari saja.” (HR. Muslim no. 1156)
Dari Ummu Salamah, beliau mengatakan, “Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam setahun tidak berpuasa sebulan penuh selain pada bulan Sya’ban, lalu dilanjutkan dengan berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Abu Daud dan An Nasa’i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Maksud Berpuasa Pada Sya'ban Seluruhnya
Lalu apa yang dimaksud dengan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya (Kaana yashumu sya’ban kullahu)?
Imam Asy Syaukani rahimahullah mengatakan, “Riwayat-riwayat ini bisa dikompromikan dengan kita katakan bahwa yang dimaksud dengan kata “kullu” (seluruhnya) di situ adalah kebanyakannya (mayoritasnya). Alasannya, sebagaimana dinukil oleh At Tirmidzi dari Ibnul Mubarok. Beliau mengatakan bahwa boleh dalam bahasa Arab disebut berpuasa pada kebanyakan hari dalam satu bulan dengan dikatakan berpuasa pada seluruh bulan.” (Nailul Authar, 7/148). Jadi, yang dimaksud Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam berpuasa di seluruh hari bulan Sya’ban adalah berpuasa di mayoritas harinya.
. . . Jadi, yang dimaksud Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam berpuasa di seluruh hari bulan Sya’ban adalah berpuasa di mayoritas harinya. . .
Kenapa Nabi Tidak Puasa Penuh di Bulan Sya'ban?
An Nawawi rahimahullah menuturkan bahwa para ulama mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyempurnakan berpuasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan agar tidak disangka puasa selain Ramadhan adalah wajib. ” (Syarh Muslim, 4/161)
Di antara rahasia kenapa Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam banyak berpuasa di bulan Sya’ban adalah karena puasa Sya’ban adalah ibarat ibadah rawatib (ibadah sunnah yang mengiringi ibadah wajib). Sebagaimana shalat sunnah rawatib adalah shalat yang memiliki keutamaan karena dia mengiringi shalat wajib, sebelum atau sesudahnya, demikianlah puasa Sya’ban. Karena puasa di bulan Sya’ban sangat dekat dengan puasa Ramadhan, maka puasa tersebut memiliki keutamaan. Dan puasa ini bisa menyempurnakan puasa wajib di bulan Ramadhan. (Lihat Lathaif Al Ma’arif, Ibnu Rajab, 233)
. . rahasia kenapa Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam banyak berpuasa di bulan Sya’ban adalah karena puasa Sya’ban adalah ibarat ibadah rawatib. Sebagaimana shalat sunnah rawatib adalah shalat yang memiliki keutamaan karena dia mengiringi shalat wajib, sebelum atau sesudahnya, demikianlah puasa Sya’ban.
Mari kita muliakan Sya'ban dengan semestinya dan jangan melalaikannya dari ibadah dan taqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Khususnya, bagi saudari-saudariku, kaum muslimah, yang masih mempunyai hutang puasa di tahun lalu, hendaknya segera dilunasi hutang tersebut. Wallahu Ta'ala a'lam. [PurWD/voa-islam.com]

Cermin Diri

Written By Qassam Corporation on Kamis, 23 Juni 2011 | 20.24

 
CERMIN DIRI

Penampilan adalah cermin pribadi kita...Orang yang necis..rapi dan bersih.. maka pribadinya lebih memungkinkan untuk bersih dan rapi pula..
Sebaliknya orang yang penampilannya kucel..kumal dan acak-acakan..maka kurang lebih seperti itulah pribadinya...

...Tentu penampilan yang necis dan rapi itu menjadi kebaikan sepanjang NIAT dan CARANYA benar.
Niat agar orang lain tidak terganggu dan terkecewakan..niat agar orang lain tidak berprasangka buruk atau juga niat agar orang lain senang dan nyaman dengan penampilan kita...

Yang terpenting diri kita jangan sampai terlena dan tertipu oleh topeng sendiri...hingga kita tak mengenal diri yang sebenarnya..TERTIPU oleh penampilan luar...
Tataplah diri kita tanyalah..

Hai..kamu ini anak shaleh atau anak durjana...??
apa saja yang telah kamu peras dari orang tuamu selama ini..??
dan apa yang telah engkau berikan..Selain menyakiti..membebani dan menyusahkannya...??
Tak tahukah engkau betapa sesungguhnya engkau adalah makhluk yang tiada tahu balas budi...!!

Hai tubuh..apakah engkau yang kelak akan penuh cahaya..bersinar.. bersukacita..bercengkrama di surga..??
atau tubuh yang akan tercabik-cabik hancur mendidih di dalam lahar membara jahannam tanpa ampun derita tiada akhir..??

Hai tubuh..berapa banyak maksiat yang engkau lakukan..?
Berapa banyak orang-orang yang engkau dzhalimi dengan tubuhmu..?
Berapa banyak hamba-hamba Allah yang lemah yang engkau tindas dengan kekuatanmu...?
Berapa banyak perindu pertolonganmu yang engkau acuhkan tanpa peduli padahal engkau mampu..?

Hai tubuh..seperti apa gerangan ISI HATImu..?
Apakah TUBUHMU sebagus KATA KATAMU..??
atau malah SEKOTOT DAKI DAKI yang melekat di tubuhmu..?
Apakah hatimu segagah ototmu atau selemah daun-daun yang mudah rontok?

APAKAH HATIMU SERUPAWAN PENAMPILANMU..?? ATAU MALAH SEBUSUK KOTORAN KOTORANMU...??

Hai tubuh..apakah kau ini makhluk mulia atau menjijikan..??
berapa banyak aib-aib nista yang engkau sembunyikan dibalik penampilanmu ini..?
Apakah engkau ini dermawan atau sipelit yang menyebalkan..??
Berapa banyak uang yang engkau nafkahkan dan bandingkan dengan yang engkau gunakan untuk selera rendah hawa nafsumu..??

“APAKAH ENGKAU INI SHALEH ATAU SHALEHAH SEPERTI YANG ENGKAU TAMPAKAN..??..

KHUSYUKAH SHALATMU...DZIKIRMU..DO'AMU..??..
IKHLASKAH ENGKAU MELAKUKAN ITU SEMUA...??..

Jujurlah hai tubuh yang malang..! Ataukah menjadi makhluk riya tukang pamer....!..

Sungguh betapa beda antara yang nampak di cermin dengan apa yang tersembunyi...betapa kita telah tertipu oleh topeng...?
Betapa yang kita lihat selama ini hanyalah topeng..hanyalah SEONGGOK SAMPAH BUSUK yang terbungkus topeng-topeng duniawi...

semakin kerdil diriku…semakin tak kupahami…
betapa jernihnya karunia-Mu dan….sejuknya kasih sayang-Mu….. ya Allah….

hingga sudah berapa nikmat-Mu yang aku dustakan…
Qassam Team / Dirtya Yhm

SMS ( Short Message Syaithon)

Written By Qassam Corporation on Selasa, 21 Juni 2011 | 12.04

SMS (Short Message Syaithon)


Terderang dering SMS dari HP si Rangga. Ia pun membuka HP canggih plus mahalnya. Setelah dilihat ternyata itu berasal dari Cinta salah seorang teman akhwatnya. Dengan sigap dan cepat ia segera membuka serta membacanya. Setelah dibaca ternyata ada sebuah pesan Jar-kom (jaringan komunikasi) berisi rapat agenda dakwah di kampusnya.
Jarkom menjarkom adalah hal wajar bagi Rangga dan Cinta. Dikarenakan mereka berdua adalah aktivis di kampusnya. Apalagi kedua provider mereka adalah sebuah brand baru yang terkenal dengan model ibu-ibu gemuknya. Yaa untuk sesaat, hal ini wajar adanya.
Waktu pun perlahan namun pasti terus berlalu. Rangga dan Cinta yang pada awalnya hanya SMS jarkom beralih ke topik permasalahan individu. Tanpa mereka sadari bahwa kini sang setan telah berhasil masuk dengan mulus ke sasaran yang ia tuju. Setan pun membatin dalam hati ”haha, mampus lu, kena gue tipu”.
Cinta sang putri terlanjur sering bertanya masalah syariah kepada Rangga sang Pangeran. Rangga yang memang luas pengetahuannya dengan mudah menjawab itu semua mulus tanpa hambatan. Selain perkara halal-haram Cinta pun sering meminta tausiyah dari Rangga sang Ikhwan. Ya, lagi-lagi Rangga yang memang kutu buku mampu menyanggupi segala permintaan dari Cinta sang perawan.
Suatu ketika Rangga pun merindu dengan SMS requestnya Cinta. Ia pun bertanya-tanya ada apa gerangan dengan ”Si Dia”. Maka kali ini Rangga yang berSMS ria. Ia menanyakan bagaimana kabar Cinta yang jauh diseberang kecamatan sana.
Cinta pun menjawab bahwa ia sedang kurang enak badan. Entah karena aktivitasnya atau karena kuliahnya yang begitu sibuk menguras pikiran. Si Rangga menjadi iba atas musibah yang menimpa Cinta yg ia sebut sebagai sebuah penderitaan. ”Syafakillah ukhtiy, mudah2an Allah menyembuhkan anti” tulis Rangga singkat dalam sebuah pesan.
Proses interaksi kini menjadi dua arah. Awalnya Rangga hanya sebagai pengarah. Kini Rangga berbalik arah menjadi sang peminta hikmah. Giliran Cinta yang kini posisinya sebagai ustadzah.
Perkara halal-haram, dan SMS tausiyah pun sudah. Kini giliran masalah pribadi atau syakhsiyah. Cinta sering meminta solusi tentang permasalahan yang sering mengganggu hari-harinya yang cerah. Begitu pun sebaliknya dengan akh Rangga yang juga sama-sama butuh solusi terhadap segala masalah.
Tidak sampai disitu saja. Mereka berdua sudah keluar jalur tampaknya. Bonus SMS yang seharusnya dipakai ke hal-hal yang bermanfaat, kini dihabiskan seenak jidatnya. Mereka berdua mulai menanyakan hal-hal yang sangat sangat sederhana. Seperti sudah makan apa belum, bangunin qiyamul lail, dan hal-hal nggak penting lainnya. Dan bahasa aku-kamu sudah menjadi hal biasa menggantikan ungkapan anti-ana.
Hari-hari terus berlalu dan nampaknya Cinta dan Rangga malah terlihat makin menikmati. Mereka berdua menikmati aktivitas yang dirasa dakwah padahal sebetulnya hanya sebuah permainan hati. Permainan yang biasa dimainkan oleh sepasang insan yang mungkin menyebabkan mereka menjadi lupa diri. Lupa terhadap pengawasan Allah yang maha mengetahui baik yang terang-terangan ataupun tersembunyi.
Akibat permainan hati tersebut. Cinta dan Rangga menjadi tertutup kepada teman-teman seperjuangan dan seatribut. Usut punya usut. Nampaknya Rangga malu setelah isi SMSnya di baca oleh salah seorang temannya yang bernama Mahmud. Semenjak saat itu-lah Cinta dan Rangga tanpa komando perlahan mundur tanpa banyak ribut. Mundur dari dunia per-dakwah-an, dunia tempat dimana syariat Allah sering disebut-sebut. Dunia dimana surga merupakan balasannya bagi siapa saja yang mau ikut.
Teman-temannya pun tak bisa berbuat banyak. Toh, dari mulai cara bicara pribadi dari hati ke hati sampai disindir-sindir semua mental tak satu pun yang masuk secara telak. Para sahabatnya pun hanya punya senjata terakhir yaitu doa secara serentak. Mudah-mudahan melalui doa ini Rangga dan Cinta bisa sadar dan terhenyak.

dinarzulakbar_mail@yahoo.com
mukminsehat.multiply.com
qassamteam.tk

Sebuah kisah tentang cadar...

Written By Qassam Corporation on Senin, 13 Juni 2011 | 02.38






 

Cadar… Satu kata yang dulu sempat membuat diriku takut untuk mendekati orang-orang yang memakainya. “Mungkin mereka jelek, makanya menutupi wajahnya, atau mungkin dia mempunyai gigi taring seperti drakula ataukah mungkin dia..begini..begini dan begitu”. Begitu banyak pikiran-pikiran yang menghantuiku ketika masih menjadi orang yang belum tahu tentang syari’at Alloh tentang cadar ini.

Sampai suatu ketika Alloh menakdirkanku untuk mengenal sekumpulan akhwat yang bercadar, “subhanalloh” satu kata yang terlontar dari lisanku waktu itu. Ternyata mereka tidak seperti yang aku pikirkan selama ini, ternyata cadar merupakan salah satu syari’at dari islam.

Berawal dari perkenalanku dengan para akhwat, disitulah awal mula diriku mengenal ilmu yang shohih, hari-hari kujalani dengan ilmu-ilmu yang yang selama ini kuanggap hanya sebatas budaya dan pemikiran orang-orang belaka. Sedikit demi sedikit kuamalkan ilmu yang telah kudapatkan, pergaulan antara lawan jenis, musik, ikhtilath, sampai ke syarat-syarat jilbab yang syar’i pun kulalui dan kuamalkan. Alhamdulillah, meski banyak rintangan dan cobaan dalam mengamalkannya. Tapi begitulah perjuangan. Begitulah konsekuensi dari amalan yang telah kita ilmui. Tapi untuk masalah cadar, ah, diriku sungguh tak tertarik untuk menggunakannya.

Sempat mempelajari tentang hukum dari cadar dan waktu itu berkeinginan untuk mempelajarinya lebih dalam, tapi teringat akan ucapan bapak, “kamu boleh pakai jilbab yang besar tapi jangan sampai bercadar. Nanti boleh bercadar kalau sudah nikah.” Ya sudahlah mendingan aku ambil hukum yang sunnahnya saja, daripada bapak marah. Toh nanti kalau dah nikah aku akan pakai cadar juga insya Alloh, untuk sekarang ga usahlah, pikirku dalam hati. Akhirnya niat untuk mempelajari hukum cadar lebih lanjutpun aku urungkan.

“Astghfirulloh, apakah jilbab yang sudah cukup lebar ini masih bisa saja menimbulkan fitnah bagi seorang laki-laki?”

Manusia boleh berencana tapi Alloh lah yang berhak menentukan jalan hidup kita. Alhamdulillah, hidayah Alloh datang kepadaku, yang awal mulanya diriku begitu kekeh untuk tidak bercadar, niat untuk mempelajari hukumnya pun ogah-ogahan, namun Alloh menakdirkan padaku untuk lebih mengetahui tentang cadar ini melalui sebuah fitnah yang kualami di kampus. Seorang teman memberitahukan padaku bahwa ada seseorang yang terfitnah gara-gara diriku. “Astghfirulloh, apakah jilbab yang sudah cukup lebar ini masih bisa saja menimbulkan fitnah bagi seorang laki-laki?” Airmatapun mulai mengalir, bukan karena terharu disebabkan ada orang yang “ngefans” tapi karena merasa bahwa diri ini adalah sumber fitnah. Belum bisa menyempurnakan hijab, tidak bisa menjaga diri, dll. Lama diriku merenung. “Kenapa sampai ada yang terfitnah? Toh aku tak pernah berkomunikasi dengannya? Jangankan berbicara, senyumpun tak pernah.” Apa yang menyebabkan semua itu??Apa??? Wajah… Ya inilah sumber dari fitnah itu… Seketika itu pun diriku bertekad dengan kuat untuk mempelajari hukum cadar, walaupun masih teringat dengan kata-kata bapak, namun tak mengurungkan niatku untuk belajar..

Alhamdulillah, Alloh memudahkan jalanku untuk mempelajari ilmu tentang cadar ini, mulai dari dukungan akhwat, cerita cerita akhwat yang memberikan motivasi, buku-buku yang mereka pinjamkan, sampai ketika salah seorang ustadzah dari Arab datang ke kota Serambi Madinahku buat memberikan dirosah. Sampai suatu hari ketika sang ustadzah telah selesai memberikan dirosahnya, kulihat dirinya sedang duduk untuk istirahat, aku pun mengajak seorang kakak untuk menemaniku berbicara kepada ustadzah tentang masalah cadar (karena ketidaktahuanku bercakap dalam bahasa arab, makanya minta tolong ke akhwat buat jadi penerjemahnya. Syukron wa jazaakillahu khair buat kakak yang membantu diriku saat itu.)

Kakak : “Adik ini ingin bertanya kepada anda wahai ustadzah, dia ingin sekali memakai cadar namun orangtuanya melarangnya, tolong berikan nasehatmu padanya.”

Ustadzah: “Kalau dia meyakini bahwa hukum cadar adalah wajib maka apapun konsekuensi yang harus dia dapatkan sekalipun orangtua melarang maka dia tetap harus memakainya, tapi ketika dia meyakini bahwa itu hanyalah sunnah maka lebih baik dia mengikuti permintaan orang tuanya.” (Kira-kira seperti itulah percakapan mereka kalau diterjemahkan dalam bahasa indonesia.)

Sampai suatu ketika keyakinanku mengatakan bahwa cadar itu adalah sebuah kewajiban.

Hemm. Ternyata, point yang kudapatkan dari pernyataan ustadzah adalah “ilmu sebelum berbuat”. Ya, aku harus mempelajarinya lagi lebih dalam tentang cadar (waktu itu aku masih menganggapnya sebatas sunnah). Hari-haripun kulalui dengan berusaha mencari tahu tentang hukum cadar. Mulai dari bertanya ke ustadz, bertanya ke akhwat dan berbagai cara kutempuh untuk mengetahui hukum sebenarnya dari cadar. Sampai suatu ketika keyakinanku mengatakan bahwa cadar itu adalah sebuah kewajiban. Tapi bagaimana dengan orangtua? Inilah ujianku selanjutnya. Aku harus berusaha memahamkan kepada mereka sedikit. Akhirnya akupun berusaha menutupi wajah ini sedikit demi sedikit, walaupun belum menggunakan cadar tapi wajah ini sering kututup dengan jilbabku ketika ada seorang laki-laki ajnabi yang lewat dihadapanku. Dan ini berlangsung sampai beberapa hari.

Suatu hari tiba-tiba keluargaku berkumpul di ruang keluarga, bapakku tiba-tiba mengatakan padaku, “bapak ga mau lihat kamu pakai cadar.” Tiba-tiba suasana di rumah menjadi tegang (ternyata selama ini bapak memperhatikanku, karena begitu seringnya aku menutup wajahku dengan jilbab yang kupakai, sampai beliau mengira bahwa aku telah bercadar waktu itu.) Bapak dengan berbagai ucapannya sambil menunjuk-nunjuk ke arahku mengatakan, “bapak ga mau kamu pakai cadar!!!”

“Apapun alasannya, bapak ga mau kamu pakai cadar. Kalau sampai pakai cadar, kamu jadi anak durhaka sama bapak!!!”

“Ga usah suruh temanmu kesini lagi, kalau ada temanmu yang datang, bapak akan usir.”

Bla..bla..bla… Berbagai macam perkataan bapak pada diriku saat itu.” Aku bisa paham terhadap ucapan bapak, karena memang beliau kurang paham apalagi beliau jarang bermulazamah dengan ustadz-ustadz. Tapi yang membuatku begitu sedih adalah ketika ibuku mendukung argumen bapak dan juga ikut-ikutan memarahiku dan melarangku. Aku kaget, karena yang selama ini aku tahu bahwa ibu mengenal beberapa ustadz dan teman-temanku yang bercadar. Pikirku waktu itu, ibu mungkin setuju-setuju saja pada saat aku bercadar. Tapi ternyata, ibuku pun melarang dan ikut-ikutan memboikotku.

Pada hari itu, bertepatan dengan perginya bapak kembali berlayar, sebelum beliau berangkat beliau datang ke kamarku dan mendapati diriku yang hanya bisa menangis tersedu-sedu dan mengatakan, “Ingat, bapak ga mau kamu pakai cadar!!!” Ya Alloh, sekeras itukah hati bapak, sampai tidak mau mendengarkan penjelasanku tentang cadar, pikirku dalam hati.

Teringat dengan kisah-kisah beberapa akhwat yang juga sempat mengalami kejadian yang sama.

Hari pertama sejak peristiwa malam itu kulalui dengan tangisan di kamar. Menangis, menangis, dan terus menangis. Satu hal yang membuatku begitu sedih ketika melihat sikap ibuku padaku, dulu ketika ada sebuah masalah yang kuperbuat di rumah hingga membuatku menangis tersedu-sedu. Ibu biasanya langsung datang menghiburku dan mengatakan, “sudahlah nak, nda usah menangis lagi.” Tapi sekarang, seakan-akan beliau bukan ibuku, sikapnya yang keras dan cuek saja melihat diriku menangis tetap tidak mengubah pendiriannya untuk melarangku bercadar. Jangankan berbicara padaku, bahkan hanya sekedar menyuruhku makan, beliau menyuruh adikku datang ke kamar. Yang bisa kulakukan saat itu hanya menangis dan berdoa pada Alloh. Namun aku yakin bahwa ujian ini akan segera berakhir, entah sehari, sepekan, sebulan, setahun bahkan bertahun-tahun, ya pasti akan berkahir!! Teringat dengan kisah-kisah beberapa akhwat yang juga sempat mengalami kejadian yang sama. Ada yang menyembunyikan cadarnya hingga dua tahun lamanya. Ada yang hampir diusir oleh orang tuanya. Ada yang cadarnya dibakar. Dan berbagai macam ujian yang dihadapi mereka. Namun toh akhirnya orang tua mereka mengizinkan bahkan sekarang mendukung anaknya..

Hey, kamu baru diuji seperti ini, masa mau nyerah begitu saja. Apa ga ingat gimana perjuangan Rosululloh dan para shahabatnya ketika memperjuangkan islam??? Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diusir oleh kaumnya sendiri, kaki beliau berdarah-darah karena dilempar batu. Para shahabat, bahkan ada yang rela tidak diakui oleh ibunya sendiri. Dan kamu ingat Sumayyah? Wanita syahidah pertama yang rela disiksa oleh orang-orang kafir karena memeluk islam, hingga beliau menemui ajalnya. Sekarang lihat dirimu??? Kalau cobaan ini saja bisa membuatmu menyerah dan jauh dari Alloh. Kira-kira ketika kamu hidup pada zaman nabi, apa kamu bisa menjadi salah seorang shahabiyah? Ataukah kamu adalah salah seorang musuh dari islam?

Akupun tersadar setelah melakukan dialog dengan diriku sendiri, segera aku ambil air wudhu dan sholat. Dalam sholat kubaca Surah An-Nashr “innama’al ‘usri yusro..fainnama’al ‘usri yusro” rasanya keyakinan akan pertolongan Alloh semakin dekat itu begitu kuat. Ya, pertolongan itu akan datang fikirku.

Sampai hari ketiga, keadaan di rumah masih tetap sama. Ibu juga nenekku masih memboikotku. Aku masih saja berada dalam kamar sambil memikirkan cara untuk meminta izin kembali ke bapak. Tiba-tiba teringat akan cerita salah seorang kakak. Ketika dia ingin mengutarakan keinginannya memakai cadar kepada orangtuanya, “dek, dulu waktu ana ingin bercadar, orangtua melarang. Namun karena kayakinan yang mantap untuk menutup aurat secara sempurna, akhirnya kutempuh berbagai cara meyakinkan bapak. Dan cara yang kupilih adalah mengirimkan surat ke beliau dengan kalimat yang syahdu, “wahai ayahku. Kutulis surat ini, bla..bla..bla. (Afwan, lupa isi suratnya.)”

Hemmm. Tiba-tiba cara yang ditempuh sang kakak tadi, terlintas di dalam pikiranku. Tapi bukan melalui surat, hanya sms yang bisa kukirimkan kepada bapakku untuk menjelaskan kenapa aku ingin bercadar.

“Assalamu’alaikum, pak kabarnya gimna? Semoga bapak baik-baik saja. Maaf sebelumnya jika saya lancang sms bapak, tapi saya sms hanya ingin menjelaskan kenapa saya ingin bercadar. Maaf pak, bukannya saya ingin menjadi anak yang durhaka karena tidak mematuhi perintah bapak, tapi karena keinginan saya yang ingin mengikuti perintah Alloh makanya saya berani untuk memakai cadar. Saya begitu sedih ketika melihat ekspresi bapak yang begitu marah ketika mengetahui bahwa saya ingin bercadar, seakan-akan bapak sangat membenci cadar. Saya tidak ingin bapak seperti itu, karena cadar juga merupakan bagian dari syari’at islam. Dan yang saya pelajari bahwa istri-istri nabi pun pakai cadar, kalau bapak benci cadar artinya bapak juga benci istri-istri Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bla..bla..bla…

Sms yang kukirm begitu panjang, 1 sms sampai 7 layar dan aku mengirimkan sebanyak 3 kali sms. Jadi kalau mau dihitung. Kira-kira aku mengirim sebanyak 21 sms ke bapak.

Beberapa saat setelah kukirimkan sms ke bapak, tiba-tiba ada sms yang masuk ke hp-ku, tapi belum berani kubuka isinya. Sampai akhirnya hpku berdering, ketika kulihat nama yang memanggil ternyata adalah bapakku. Sambil deg-degan kuangkat telpon bapakku, dan siap menerima omelan dari bapak lagi karena kelancanganku untuk meminta izin memakai cadar.

Aku : “Assalamu’alaikum.”

Bapak: “Wa’alaikumsalam, lagi dimana nak???”

Aku: “Di rumah pak. Lagi di kamar.”

Bapak: “Kamu masih nangis??”

Aku: “I..i..iya pak. (Sambil menghapus airmata.)

Bapak: “Bapak dah terima sms dari kamu. Kamu beneran mau pakai cadar???

“Aku: “I..i..iyya pak..”

Bapak: “Ya udah…kalau mau pakai cadar, pakai cadar saja. Asal hati harus lembut ya nak…

“Aku: “Hah??” (Dalam keadaan yang masih belum percaya, tiba2 sikap bapak berubah 180 derajat.) Beneran pak??”

Bapak: “Iya nak… mana mamamu? Bapak mau bicara.”

Akhirnya bapak bicara ke ibu, dan dari percakapannya ibu mengatakan kalau bapak mengizinkan aku pakai cadar. Ibu dilarang untuk melarangku bercadar. Masih belum percaya dengan keputusan bapak, akupun membaca sms yang dikirimkan bapak kepadaku sesaat sebelum beliau menelponku, “ya udah kalau kamu mau pakai cadar bapak izinkan, ingat ya, hati harus lembut..janji ya..” Alhamdulillah, bapak benar-benar mengizinkanku.

Dan akhirnya. Bismillah. Tepat tanggal 5 Ramadhan, aku pun keluar dari rumah pertama kali dengan menggunakan cadar yang menutupi wajahku. Tak henti-hentinya aku mengucapkan syukur di atas angkot dan airmata terus saja mengalir karena akhirnya pertolongan Alloh datang juga setelah 3 hari diriku harus menangis di kamar tanpa henti. Diboikot oleh orang tua sendiri. Yaa, akhirnya akupun memakainya. Semoga pakaian ini akan terus kukenakan hingga ajal menjemput. Amin, Allohumma amin. “yaa muqallibal qulub tsabbit qalbi ‘ala diinik.“

Puisi, Yaa Rabb..........

Written By Qassam Corporation on Jumat, 20 Mei 2011 | 11.12


Ya Rabb,
Inilah pengakuanku.
Aku berzina,
terang-terangan dalam penglihatan-MU….

Rabb….
Dadaku dag-dig-dug.
Tangan dan tubuhku gemetar.
Menantikan peradilan di hadapan-NYA.
Akhirnya malaikat itu datang.
MEmbawa catatan amalanku di dunia.
Dibukanya layar….
Ditampilkan seluruh aktivitas duniaku.
Apa yang terlihat,
sungguh membuatku menyesal….

Ya Rabb,
kenapa mulutku tidak bisa bicara?
"Aku dulu selalu melihat wajah tampan lelaki bukan muhrim!"
Kudengar mata berbicara lantang.
Lalu terlihat di layar,
aku sedang melototi wajah-wajah tampan teman chatting,
teman facebook,
dan semua teman lelakiku.
Malunya aku,

Rabb…
"Aku dulu selalu mendengarkan kalimat mesra dari seorang lelaki yang haram bagiku!"
Kali ini telingaku bicara.
Ya, semasa di dunia aku hanya sibuk bertelepon ria dengan pacarku.
Dia memanggilku 'sayang',
akupun demikian…
Dia bilang
"I love you"…

Rabb…
Kenapa semua aktivitasku penuh maksiat?
Kenapa kegiatanku hanya berpacaran?
Kenapa hari-hariku hanya disibukkan dengan nafsu syahwat semata?
Layar itu masih menampilkan rekaman kegiatan harianku.
Yang paling sering muncul adalah wajah seorang lelaki,
yang sampai sekarang belum pernah kutemui.
Bahkan sampai ajalku menjemput,
aku sedang menelepon dia dan sayang-sayangan dengannya.

Lelaki itu..
wajahnya sungguh menarik hatiku.
Dialah salah satu teman facebook,
situs jejaring sosial yang pada waktu ajal akan menjemputku,
situs itu yang paling terkenal dan marak digunakan…
Komunikasi di facebook,
berlanjut ke sms,
lalu telepon.
Sekadar mengingatkan untuk sarapan dan makan siang.
Setelah itu,
semakin intens hubungan kami.
Tengah malam selalu menjadi waktu paling menyenangkan bagi kami.
"Sayang, aku mencintaimu…"

Ya Rabb..
Sia-siakah hariku?
Tiap detik aku menghabiskan waktuku hanya untuk menghubungi dia.
Tiap menit aku hanya memikirkannya.
Bahkan pada waktu menghadap-MU…
aku tak tersentuh oleh ayat-ayat-MU….
Apalah lagi qiyamullail,

Rabb.
Untuk sekadar bangun subuh saja aku sulit.

Rabbi…
Malam itu dia meneleponku.
Malam kematianku.
Seperti biasa,
dia menanyakan kabarku,
bertanya tentang kuliahku,
bertanya tentang keluargaku.
Dan hal yang selalu kami lakukan…
ia memanggilku 'sayang'
dan akupun demikian….
Aku sungguh menaruh hati padanya.
Aku pun mencintai dia,
seorang lelaki yang belum pernah aku temui.

Rabbi…
Aku mengaku salah.
Aku pacaran dengannya,
walaupun kami tak pernah bertemu.

Aku berzina!
Lidahku berzina mengucap sayang padanya
tanpa didasari ikatan pernikahan.
Telingaku berzina mendengarkan pujian sayang
dan kalimat mesranya padaku.
Mataku berzina melihat foto-fotonya.
Hatiku berzina karena selalu merindukannya.

Rabbi…
Aku sudah menghadap-MU,
dalam su'ul khatimah.
Kumohon,
sadarkan lelaki itu ya Allah.
Jangan biarkan ia mati dalam keadaan seperti itu.
Sadarkan ia ya Rabb…

Facebook,
semuanya bermula.
Rabb, aku berzina.
Seberapapun kecilnya,
aku sudah berzina.
Mataku, telingaku, lidahku, hatiku…..
Menetes air mata ini.
Andai aku bisa kembali ke dunia lagi….
( Tag dari neng sedang berburu) semoga bermanfaat......
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Kang Diky Al-Qassam - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger