AMBON (Qassam Team - Voa-islam) – Aksi Fatma ini tergolong nekad. Bayangkan, wanita Kristen berusia 55 tahun ini menyamar sebagai Muslimah berjilbab di tengah perkampungan muslim Komplek STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri) Batumerah Ambon, saat sedang beredar rumor panas akan adanya konflik Natal 2011.
Aksi nekad Fatma terbongkar setelah ia
meminta sumbangan kepada sebuah keluarga di RT 01 RW 017 STAIN Batumerah
Ambon. Sumbangan tersebut, kata Fatma, untuk bantuan kepada warga
kampung Waringin yang mengungsi di Pasar Gotong Royong.
Kasus ini bermula ketika seorang wanita
berjilbab mendatangi rumah keluarga Hermanto, Selasa (6/12/2011) dengan
tujuan meminta sumbangan untuk pengungsi korban kerusuhan dari Waringin
yang mengungsi di Pasar Gotong Royong. Di masyarakat, Hermanto dikenal
sebagai tokoh pemuda.
Wanita berusia sekitar 55 tahun yang
mengaku bernama Fatma ini diterima dengan baik oleh Hermanto dan ibunya,
lalu diberi sejumlah uang untuk seperti yang diminta.
Setelah diberi uang, Fatma menemui istri
Hermanto yang bernama Ummu Rafiz dengan maksud yang sama, meminta
sumbangan pengungsi. Karena merasa kasihan, Ummu Rafiz mengajak Fatma
untuk masuk ke rumah dan mengajaknya makan siang. Usai makan siang, Ummu
Rafiz memberikan sejumlah uang seperti yang diminta Fatma.
Namun melihat gelagat penampilan dan
logat bicara Fatma yang aneh, mengundang kecurigaan Hermanto yang
memperhatikan gerak-gerik Fatma sejak awal.
Karena curiga, Hermanto pun bertanya
mengenai nama, marga, asal dan alamat Fatma. Fatma mengaku bermarga
Matdoan dari Maluku Tenggara dan tinggal di kebun Cengkeh. Ketika
ditanya apakah memiliki keluarga disekitar komplek STAIN, Fatma mengaku
kalau dia memiliki keluarga yang tinggal di Kampung Kahena yang berjarak
sekitar 1 km dari rumah Hermanto. Ia juga mengaku sering berkunjung ke
keluarganya di Kahena.
Anehnya, ketika ditanya jalan menuju ke
Kahena, Fatma mengaku tidak tahu. Jawaban ini membuat Pak Hermanto
semakin curiga dan membuat dia ingin terus menyelidiki wanita misterius
ini. Ketika ditanya agamanya, Fatma mengaku beragama Islam. Karena
penasaran, Hermanto pun meminta Fatma untuk mengucapkan dua kalimat
syahadat, ternyata ia tidak bisa mengucapkannya.
Hermanto pun menyimpulkan bahwa Fatma
bukan orang Islam karena tidak bisa mengucapkan dua kalimat syahadat,
padahal ia mengaku sebagai muslimah dan berjilbab. Untuk mengetahui
kedok Fatma, Hermanto menelepon koordinator pengungsi Waringin di Pasar
Gotong Royong. Dua orang koordinator pengungsi yang bernama Ongen dan
Eva pun datang ke rumah Hermanto untuk menemui Fatma. Namun keduanya
tidak mengenali Fatma dan menegaskan bahwa Fatma sama sekali bukan
koordinator pengungsi Waringin.
Merasa penyamarannnya terbongkar, Fatma
mencoba melarikan diri namun berhasil ditangkap oleh anak-anak muda yang
sedang berada di jalan raya di depan rumah Hermanto.
Untuk mengkroscek keterangan Fatma,
selanjutnya Hermanto membawanya ke Kebun Cengkeh, mencari orang yang
berasal dari Maluku Tenggara. Ternyata di Kebun Cengkeh tak satu pun
keluarga berasal dari Maluku Tenggara yang mengenal Fatma.
Namun ketika sampai di belakang SMP
As-Salam, seorang ibu yang mengenali Fatma pun menegurnya. “Hai minah
ose darimana sa?” (hai minah kamu darimana saja).
Terungkaplah bahwa wanita yang mengaku bernama Fatma ini adalah warga kampung Kristen di desa Passo.
Tak mau berurusan panjang, Fatma pun
berusaha kabur menuju Komplek Kuburan Kebun Cengkeh, namun kembali
ditangkap warga dan diserahkan kepada Polisi.
Koordinator pengungsi muslim kampung
Waringin mengadukan Ibu Fatma ke Polsek Kota Jawa dengan tuduhan telah
mencemarkan nama baik. Sebab selama ini Koordinator pengungsi tidak
pernah meminta atau menugaskan orang untuk meminta sumbangan kepada
masyarakat untuk memenuhi kebutuhan para pengungsi.
Belum diketahui aktor intelektual di
balik penipuan yang dilakukan oleh Fatma, karena ketika ditanya akan hal
tersebut Ibu Fatma memilih banyak diam dan tidak menjawab.
Namun sebagian warga mencurigai Fatma
sebagai penyusup Kristen yang bertugas melakukan pemantauan terhadap
perkampungan muslim. Pasalnya, saat ini sedang banyak beredar rumor akan
adanya kerusuhan susulan pada hari Natal yang dihembuskan oleh
orang-orang Kristen Ambon.

0 komentar:
Posting Komentar