Sobat, kenalkan namaku Indonesia. Jangan salah mengeja ya,
INDONESIA. Ini cerita tentang diriku, tetanggaku, teman-temanku, dan
semua yang ada di sekitar aku. Aku punya tetangga sekaligus adik kelasku
semasa kuliah dulu namanya Malaysia. Saat ini umurku….hemmm berapa
ya..? Rahasia deh, sama seperti teman2 di FB yang suka merahasiakan
umurnya.. hehehe…
Oiya, aku malu
lho sama adik kelasku yang tetanggaku itu. Coz, dari segi umur emang aku
lebih tua dikit dari dia, dan dia dulu lebih dulu belajar dari aku,
sehingga aku sering disebutnya sebagai "guru"oleh dia. Nah yang membuat
aku malu adalah karena dia sekarang lebih "pinter" dari aku. Kalo dulu
dia sering belajar dari aku, tapi sekarang kebalik, aku yang harus
sering belajar ke dia, sehingga aku pun sekarang harus memanggilnya
"guru".
Kadang aku dengan tetanggaku Malaysia ini
sering berantem, karena kami sangat dekat sekali maka sering
main-mainanku ketukar trus diklaim sama si Malaysia sebagai mainannnya.
Aku sih nggak papa, biarin aja deh, kata pak ustad Jono "orang sabar dan
ikhlas itu bisa masuk surga"… hahaha..
Sobat,
aku juga punya tetangga bernama Singapura. Tapi tetanggaku satu ini agak
belagu orangnya, mungkin karena dia diangkat anak asuh oleh Australia
dan Amerika, sehingga dia pernah ngegosipin aku, bahwa "Indonesia itu
sarang teroris". Makanya aku sendiri agak sensi kalo harus bertetangga
dengan dia. Tapi sayang Sobat, meski aku dikatai seperti itu, aku tidak
bisa dan tidak berani membalasnya. Aku lebih suka berpenampilan sopan di
dalam pergaulan, daripada harus membalas ocehan tetanggaku Singapur
itu. Lagi-lagi aku harus mengalah dan memilih bungkam.
Sobat,
saat ini aku sedang mengalami duka yang mendalam, aku banyak menangis,
bencana alam masih setiap menyapaku. Disamping bencana alam, ada juga
bencana kemanusiaan yang aku alami. Aku terkena banjir, terkena tubrukan
kereta api, dll.
Sobat bukannya sombong,
sebenarnya aku bisa dibilang sangat kaya. Sebab aku punya emas yang
tersimpan di Jayawijaya, punya minyak bumi yang hampir tersimpan di
seluruh pelosok negeri, cadangan gas ku juga termasuk cadangan gas
terbesar diantara tetanggaku. Tapi sayang sobat, kekayaanku tersebut
sekarang, tidak bisa aku nikmati. Menurut "pengasuh" ku, kalau kekayaan
itu di privatisasi alias dijual, maka aku akan semakin kaya dan menjadi
"Indonesia yang maju". Namun rupanya itu cuman bohong-bohongan, buktinya
sejak 1976 kekayaan emas ku yang digadaikan ke PT Freport Amerika,
tidak bisa mensejahterakan aku yang sejatinya pemilik sah emas tersebut.
Itu baru emas, belum minyak bumi, gas, dan kekayaan tambang yang
lainnya.
Sobat, sebenarnya aku pengin sekali
menjerit dan meronta sekuat-kuatnya untuk memuntahkan segala keluh kesah
dan kekesalanku pada "pengasuh"ku, karena aku sebenarnya dipaksa untuk
berteman akrab dengan Amerika. Ya, aku memang sebenarnya emoh berteman
dengan Amerika, karena Amerika terkenal sombong, culas, bahkan berlagak
sok jadi penengah gitu kalau lagi ada sengketa. Apalagi sesudah
ditandatanganinya kesepakatan "kemitraan komprehensif", aku jadi semakin
tidak leluasa bergerak, aku jadi semakin tertekan. Terus terang Sobat,
Amerika bagi saya itu bukan hanya sekedar teman, tapi lebih sebagai
seorang penjarah binti penjajah. Tidak puas Amerika menjarah emasku di
Irian Jaya, dia mau menguasai 100% blok D-Alpha di Natuna. Ya Allah,
sungguh kian malang nasibku.
Sobat, begitulah
kiranya nasibku saat ini. Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan
seperti ini? Apakah esok masih ada Indonesia? Wallahu’alam
Untuk
itu sobat, kau sahabat-sahabat sejatiku dalam perjuangan "nasib" ini,
aku mohon kontribusi kamu untuk bisa menyelematkan aku. Aku pernah
dengar ada yang mengatakan semacam slogan atau semboyan "selamatkan
Indonesia dengan syariah". Nah, aku sangat respect dan setuju dengan
perjuangan itu. Aku rindu dengan syariah, aku kangen kamu sobatku, para
pejuang di jalan dakwah yang ingin merubah Indonesia menjadi lebih baik.
Kunanti dan kuikuti perjuanganmu Sobat !
Source : Neng Sedang Berburu
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar